Minggu, 30 Desember 2018

Surat untuk Saya di Masa Depan


Sujiwo Tejo pernah berkata, masa depan kita ada di belakang, di masa lalu. Aku percaya ini. Masa depanku, bergantung pada bagaimana aku bersikap mengenai masa laluku. Masa depan keluruhan budiku, ada pada ngelmu pring, filosofi bambu yang sudah ada sejak dulu dan secara turun-temurun sampai ke telingaku.
Kupersembahkan sebuah surat. Kapanpun itu, entah lima tahun lagi, atau bahkan satu detik yang belum kulewati, yang merupakan bagian dari masa depanku. Entah saat dunia sedang baik padamu, atau saat seluruh dunia terasa mengkhianatimu. Untukmu, diriku sendiri, sing ora gampang tugel, mergo iso melur, yang hijau memancarkan ketenangan, rimbun memberi kesejukan, dan mengakar kuat pada tanah yang kaya akan zat-zat hara sumber kehidupan. Kamu, pring, Sang Bambu itu.
Diriku sendiri, Pring Kuning, urip iku eling wajib podo eling marang sing preparing. Ojo adigang, adigung, adiguna.
Kala kesibukan membuatmu meminta satu tambahan hari untuk menyelesaikan semua kesibukanmu, perlahan kamu menjelma Sadewa. Merasa paling berkuasa, paling besar, paling sakti. Kesuksesan, kemampuan, dan pujian yang justru memenjarakan potensi diri. Kata-kata puas nyatanya lebih sering menjadi penghalang dibandingkan kata-kata sementara cukup.  Sombong itu bukan tugasmu. Sombong itu tugas Tuhanmu. 
Ngomong-ngomong, kala kamu merasa kehabisan waktu, sudah berapa banyak kamu menyisihkan waktu memenuhi panggilan Tuhanmu?
Diriku sendiri, Pring Petung, urip iku suwung, senajan suwung nanging ojo podo nganthi bingung. Datan serik lamun ketaman, datan susah lamun kelangan. Pring kuwi suket, dhuwur tur jejeg, rejeki seret ora usah podo buneg. Ojo gumunan, ojo getunan, ojo kagetan, ojo aleman.
Hidup adalah duka, lalu berganti senang, lalu berubah lara. 
Layaknya Tuhan yang tidak pernah menjanjikan kalau langit selalu biru. Langit berubah oranye, lalu hitam kelam, dan tiba-tiba kelabu, sesuai waktunya. Tuhan tidak pernah menjanjikan bahwa hidup akan mudah, walaupun begitu, Tuhan menjanjikan kemudahan akan datang setelah kesulitan, asal kamu bersabar. Jadi kenapa harus takut pada lara? Jangan mudah sakit hati manakala kesulitan menimpa diri, juga jangan meratapi kehilangan terlalu lama. Kamu bukan satu-satunya, jangan merasa perlu diistimewakan hanya karena kamu merasa kamu yang paling menderita.
Yang terpenting, diriku, apapun keadaannya, yang terbaik adalah harus selalu sadar. Sadar bahwa ada kemungkinan masalah dimanapun, bahwa tidak semuanya ada dalam kendalimu, dan hanya reaksimu yang bisa kamu kendalikan. Kesadaran dalam mengelola emosi yang membuatmu tidak panik dan kebingungan, tidak mudah heran dan menyesal, terkejut dan manja adalah pelajaran agar tidak mudah bereaksi berlebihan pada suatu masalah dan memaksamu beradaptasi dengan banyak alternatif, hingga kamu menjelma Sembadra. 
Diriku sendiri, Pring Dheling, kendhel lan eling. Kendhel mergo eling timbang grundel nganti suwing. Memayu hayuning bawono, ambrasto dur hangkoro. Ojo ketungkul marang kalungguhan, kadonyan lan kemareman. Ojo milik barang kang melok, ojo mangro mundak kendo.
Hidup bukan hanya tentang keluh saat dahi penuh peluh. Hidup di dunia untuk mengusahakan keselamatan, kebahagiaan dan kesejahteraan. Semua hal itu tidak akan tercapai kalau tidak ada keberanian. Keberanianmu dalam memulai sesuatu jelas membantumu untuk lebih maju, kenapa kamu terlalu menahan diri? Kendatipun demikian, diriku, waspadalah dengan obsesi terhadap kedudukan, kebendaan dan kepuasan duniawi yang akan membunuhmu. Berpuasalah dari semua makanan enak memboroskan dan mengundang penyakit, hingga kamu berbuka dan menjelma Gareng.
            Diriku sendiri, Pring Apus, urip iku lampus, dadi uwong urip ojo apus-apus. Ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji, sugih tanpo bondo. Berjuang tak perlu membawa massa, cukup kamu sendiri. Tidak perlu mempermalukan orang lain hanya untuk membuatmu merasa menang. Tak lagi mendeklarasikan kekuatan untuk tampak berwibawa. Kamu sadar kekayaan yang hanya didasari kebendaan adalah kefanaan, karena kamu telah menjelma Anoman.
 Diriku sendiri, Pring Cendhani, urip iku wani ngadepi ojo mlayu mergo wedhi.
Kamu sesungguhnya sedang menenangkan diri, atau sedang melarikan diri? Kamu adalah kamu, dan masalahmu adalah bayang-bayang. Mau kemana kamu berlari sampai bisa meninggalkan bayanganmu sendiri?
Diriku, carilah banyu perwita dan temukan hakikat dirimu di Alas Tribaksara milik Glints . Kalahkan Raksasa Rukmuka dan Rukmukala yang beranak-pinak menjadi bangga, tamak, malas, rakus, birahi, iri dengki, dan amarah. Menyelamlah ke Samudera Laya dan dengarkanlah Dewaruci. Apakah kamu sudah menjelma Bima?
Diriku sendiri, Pring Wuluh, urip iku tuwuh ojo mung emboh ethok-ethok ora eruh.
Urip iku urup. Hidup itu nyala. Realitas mengatakan kita semua ada dalam perahu kehidupan ini bersama-sama. Tetangga kananmu tidur berdinding kayu rapuh, tetangga kirimu hanya punya satu baju lusuh, tetangga depanmu hanya punya tumpukan sapu lidi dan satu sepeda untuk dikayuh. Sudah sejauh mana kamu acuh, diriku?
Hibur tuanmu, diriku, kala mereka kesusahan menerima cobaan-cobaan itu. Bela hak-hak mereka, ketahui apa yang mereka pinta. Ingatkan mereka kalau-kalau mereka lupa kewajiban mereka. Bermanfaatlah kamu bagi tuan-tuanmu. Sudah berapa lama kamu menjelma Petruk, diriku?
Diriku sendiri, Pring Ori, urip iku mati, kabeh seng urip bakale mati. Menungso podo eling yen tekan titi wancine bakal digotong anggo pring, bali neng ngisor lemah podo oyot pring.
Pada akhirnya, tujuanmu haruslah menjelma Puntadewa, insan kamil berdarah putih, tak bermahkota, yang mengakhiri perjalanannya mengelilingi Bharatawarsha dan tiba di puncak Himalaya karena kesucian hatinya. Ia kekal di syurga, bersama saudara-saudaranya yang baik hatinya.
Sudah sejauh ini perjalananmu. Lihat ke belakang, jangan ragu untuk mengapresiasi dirimu sendiri. Kendatipun demikian, sampai berlari-larian susah payah begini, apa yang kamu cari, diriku?
Afirmasi.
Toh, pada akhirnya, semuanya akan mati.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar